
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Kami melanjutkan latihan untuk pertunjukan, membuat koreografi baru, dan membuat properti tambahan seperti kursi kayu.
Hari ini saya bersama anggota perkab yang lain sedang proses membuat tiang, bambu, dan menyempurnakan…
Kami telah menyelesaikan penampilan UPRAK kami pada tanggal 12 Februari 2026. Oleh karena itu, saya…
Pada hari ini, saya dan Axelle merombak ulang background-background untuk penampilan UPRAK yang masih terbuat…
Pada hari ini, kelas kami latihan di rumah saya. Gambar di bawah merupakan dokumentasi dari…