
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Pada Minggu, 8 Februari, kami kembali melanjutkan latihan drama di Rumah Celine. Hari itu menjadi…
Pada tanggal 7 Februari, hari Sabtu, kami satu kelas berkumpul di Rumah Celine untuk kembali…
Pada tanggal 6 Februari, saat berada di kos dan memiliki waktu luang, saya kembali melanjutkan…
Pada tanggal 5 Februari, setelah pulang sekolah, kami satu kelas tetap melanjutkan latihan drama meskipun…
Pada tanggal 3 Februari, sepulang sekolah, kami kembali berkumpul karena masih ada tambahan dekor yang…