
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Pada tanggal 2 Desember kami melanjutkan proses pembuatan dekor dengan fokus pada penyelesaian salah satu…
Pada tanggal 1 Desember kami melakukan pertemuan pertama untuk mulai mengerjakan dekor pementasan. Bersama anggota…
Kami melakukan latihan yang serius dan sedikit melakukan penyesuaian terhadap posisi property setelah latihan di…
Hari ini saya dan teman-teman kembai melakukan runthrough di sekolah. Saat pagi, kami juga melakukan…
Hari ini saya dan teman-teman kembali melakukan runthrough di Vhall saat pagi hari dan sepulang…