
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Provinsi Heilongjiang terletak di ujung utara Tiongkok dan dikenal dengan iklimnya yang sangat dingin. Karena…
Taste Meets Tactics Kegiatan memasak bersama kelas kali ini dilaksanakan di Pocin atau Pohon Cinta.…
Ketika Mahjong dan Masakan Bertemu Pada hari Jumat, 3 Oktober, pukul 12.10 hingga 13.50 (jam…