
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
13 Januari – Membangun Intensitas Latihan di Francis Room terasa lebih fokus dan serius. Saya…
12 Januari – Latihan Mandiri di V-Hall Latihan all scene mandiri membuat saya mulai menghafal…
Hari ini, setelah jam pulang sekolah, kami mengulang kembali semua adegan meski dengan waktu yang…
Pada hari ini, saya dan teman-teman shooting di PTPN dan bagian saya yaitu mengarahkan gaya…
Hari ini, kami berkumpul lagi untuk latihan adegan kami lagi secara keseluruhan. Saya senang dengan…